Selasa, 21 Agustus 2018  
2016-06-16 12:38:20 Diingatkan kepada Masyarakat agar tidak mempercayai oknum yang mengatasnamakan Hakim atau Pejabat Peradilan untuk memenangkan Perkara di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta
    



2013-09-19 10:20:34
Halal Bihalal Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta

Jakarta, 17 September 2013. Halal bihalal dalam rangka merayakan hari Raya Idul Fitri 1434 H dilaksanakan di lantai dasar (Aula) Gedung Sekretariat Mahkamah Agung dimulai pukul 10.30 wib sampai dengan selesai. Tema Acara halal bihalal kali ini adalah “Dengan Semangat Halal Bihalal 1434 H, Kita Satukan Langkah Menuju Peradilan Modern Yang Agung”. Hadir pula dalam acara ini antara lain para Hakim Agung Kamar C, bapak Dirjen Badimiltun, Pejabat Eselon Dua Mahkamah Agung, para Hakim tinggi Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta, para Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara se-wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta dan para Hakim, Kepala Pengadilan Militer di Jakarta, serta para undangan lainnya dan seluruh pegawai Pengadilan Tinggi TataUsaha Negara Jakarta. 

Acara diawali dengan sambutan Ketua Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta. Dalam sambutannya Ketua berpeesan agar kita saling bermaaf-maafan dan kembali ke fitrah. Dalam acara ini sekaligus pula kita dapat merapatkan barisan terhadap isu-isu yg berkembang dan dengan semangat halal bihalal 1434 H kita dapat menyatukan langkah menuju Peradilan Modern Yang Agung.  Melalui acara ini kita jadikan  momentum membangun Lembaga Peradilan Yang Agung, Take action dengan menunjukkan performance yang tinggi, kesederhanaan dan menjauhi diri dari sikap mementingkan diri sendiri. Kembali diingatkan tahun ini MARI mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualiaan dimana merupakan suatu kebanggaan Mahkamah Agung mendapat penilaian WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK.

Penilaian ini selain membanggakan juga menimbulkan tanggung jawab yang lebih besar. Opini WTP ini merupakan penilaian berdasarkan kesesuaian penyusunan laporan dengan standar akutansi pemerintah. Penilaian ini pula membawa efek domino yaitu percepatan terhadap reformasi birokrasi. Dimana untuk mewujudkan peradilan modern yang agung harus bekerja keras dan tidak lagi berfikir terkotak-kotak (polarisasi). Dengan melakukan hal-hal tersebut diharapkan peradilan akan meraih kepercayaan publik. Predikat ini membawa tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat. Opini ini adalah bukan tujuan akhir, harapan berikutnya adalah percepatan birokrasi di semua bidang terutama diperadilan Tata Usaha Negara.

 Jika ingin mewujudkan lembaga peradilan yang agung kita harus bekerja keras, bekerja cerdas dan tidak memiliki pemikiran yang terkotak-kotak. Ada suatu rumusan dari orang bijak agar kita senantiasa memberi lebih dari apa yang mereka harapkan. Terakhir ketua berpesan “Dunia penuh dengan pemimpi tetapi tidak banyak yang mewujudkan mimpi tersebut, dan semoga peradilan tata usaha negara dapat mewujudkan peradilan modern yang agung”.

          Bapak Hakim Agung H. Yulius Rivai, S.H.,M.H. mengatakan dalam sambutannya memang acara kita banyak tertunda karena banyaknya acara-acara penting lainnya. Sekali lagi diingatkan tujuan MARI adalah mencapai sebuah peradilan yang agung. Kembali kepada Fitrah adalah salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan itu. Beliau juga berpesan agar tidak masuk golongan orang-orang yang disebut “celaka”. Orang yang termasuk golongan orang celaka apabila: bertemu kedua orangtuanya tapi tidak berbakti kepada orang tuanya. Bertemu bulan ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, dan yang terakhir tidak mengucapkan salam ketika nama nabi disebut. Makna halal bihalal adalah kembali kepada fitrah. Sebagai keluarga besar Peradilan Tata Usaha Negara maka kita harus guyub, rukun dan bersatu. Hal itulah yang selalu dipesankan oleh para pendahulu-pendahulu kita. Beliau mengingatkan kembali ciri peradilan modern yang agung terdiri dari manusia-manusia pelaksana kehakiman yang memiliki integritas dan manusia-manusia yang pikirannya sudah tercerahkan.

         Pada kesempatan ini juga disampaikan hikmah halal bihalal oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Prof.Dr. Ali Mustafa Yakub, M.A. dalam hikmahnya beliau menyampaikan bahwa makna dari halal bihalal adalah kebersamaan. Saat ini nilai-nilai kebersamaan telah memudar karena sifat individualisme. Dalam rangka mewujudkan peradilan yang modern maka hukum harus benar-benar diterapkan dan ditegakkan sebagaimana hukum yang berlaku, bukan hukum yang dikompromikan sebagaimana telah diungkapkan oleh Agum Gumelar. Dengan penerapan hukum yang benar dan tidak diperjualbelikan maka peradilan modern yang agung dapat terwujud dan peradilan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat

       Dua hal yang perlu kita garis bawahi adalah semangat halal bihalal dan mewujudkan peradilan yang agung. Halal bihalal memiliki arti saling menghalalkan dan kegiatan atau tradisi ini hanya ada dinegara kita saja.

        Beliau juga mengingatkan untuk memiliki karakter orang yang bertaqwa, dimana orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki kepedulian kepada orang lain. Disurat Albaqarah ciri orang bertakwa adalah orang yang selalu mendermakan apa yang dimiliki dan diakhiri Imam Besar Masjid Istiqlal Prof.Dr. Ali Mustafa Yakub, M.A.dengan doa..

Jarwo Liyanto&Kornelius

 

::back::

 


Copyright 2012 All Rights Reserved Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta